|
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi 2, Juni 2009 |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 21 October 2009 |
We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Indonesia Tumbal Krisis Global
Berapa kali lagi Indonesia harus menjadi tumbal untuk menyelamatkan
krisis bangsa lain? Sejarah mencatat, sepanjang abad ke-19 khususnya
setelah pemberlakuan sistem tanam paksa (cultuur stelsel), negeri ini
telah menjadi lumbung penyelamat bagi negeri Belanda dan Eropa yang
mengalami krisis akibat perang berkepanjangan.
Kejadian ini kembali berulang. Negara maju khususnya Amerika Serikat
(AS) sebagai negara yang paling bertanggung jawab atas krisis global
saat ini, berencana menjadikan negara miskin sebagai tumbal. Niat itu
dijalankan dengan merancang satu strategi counter cyclical policy,
yaitu suatu kebijakan pemberian utang kepada negara miskin untuk
digunakan sebagai dana stimulus ekonomi dalam rangka meningkatkan
investasi asing dan liberalisasi perdagangan. Skema tersebut relevan
mengingat negara miskin memiliki semua yang dibutuhkan bagi
penyelesaian krisis global yaitu sumber daya alam dan pasar yang besar.
Itulah yang menjadi latar belakang pentingnya keterlibatan Indonesia,
India, Brasil dan negara miskin lainnya dalam forum G-20 di London
tangal 1-2 April 2009 lalu. Kepentingan negara maju juga-lah yang
mendasari sikap pemerintah Indonesia forum London Summit tersebut,
dimana Presiden SBY meminta agar lembaga keuangan dunia memberikan
budget support (dana utang) melalui Multilateral Development Banks
(MDBs) sebagai counter-cyclical kepada emerging market yang akan
digunakan untuk menolong negara-negara maju dalam mengatasi krisis.
Padahal kondisi perekonomian Indonesia sendiri belum membaik sejak
krisis moneter 1997. Bahkan saat ini hampir separuh rakyat Indoensia
hanya berpendapatan antara US$ 1-2 per hari, sedikitnya 45 persen
pekerja termasuk kategori miskin atau berpendapatan dibawah Rp 600 ribu
per bulan dan lebih dari 62 persen dari 100 juta orang yang bekerja
melakukan pekerjaan di sektor informal. Sementara separuh perusahaan di
sektor formal bersifat tidak permanen dan rentan mengalami
kebangkrutan.
Bahkan ketika krisis global terus menular, justru perekonomian
Indonesia menerima dampak buruk. Pondasi ekonomi dan industri yang
sangat bergantung pada faktor eksternal seperti bahan baku impor, utang
luar negeri dan investasi asing, menyebabkan perekonomian menjadi
sangat rentan. Bank Indonesia (BI) telah kehilangan devisa ratusan
triliun hanya untuk mengatasi penurunan nilai mata uang rupiah. Dalam
tahun 2009 diperkirakan akan terjadi 200 ribu PHK. Sementara penambahan
angkatan kerja baru antara 2 hingga 2,5 juta orang dan jumlah
pengangguran telah mencapai 11 juta orang. Situasi yang sangat berat
dan tidak hanya akan memiliki dampak ekonomi akan tetapi dapat
menimbulkan implikasi sosial politik yang luas.
Pertanyaanya adalah, bagaimana mungkin negara miskin yang tengah
mengalami krisis yang parah berkorban menyelamatkan krisis negara maju?
Bahkan dilakukan dengan menambah utang baru? Padahal utang yang ada
sekarang sudah sangat besar yaitu mencapai lebih dari 30 persen PDB dan
nilai nominal pertumbuhan ekonomi tidak cukup untuk membiayai cicilan
pokok dan bunga hutang. Sungguh merupakan kebijakan tidak adil dan
semakin menegaskan bahwa pemerintahan negeri ini adalah pelayan dari
negara maju.!.
Redaksi
|