| Menggugat Perjanjian Kerjasama ASEAN-China |
|
|
|
| Written by Administrator | ||||||||||||||||||||||
| Thursday, 04 February 2010 | ||||||||||||||||||||||
We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English. Belakangan ini pemerintah terlihat sangat agresif
dalam mendorong perjanjian perdagangan bebas. Menteri perdagangan Indonesia
Marie Elka Pangestu, termasuk salah seorang menteri perdagangan di dunia yang
paling aktif melakukan negosiasi dalam rangka free trade. Hal tersebut
sangat terlihat dari sikap sang menteri baik dalam perundingan World Trade
Organization (WTO) maupun pada tingkat regional ASEAN.
Pasca gagalnya perundingan WTO sejak 2005 dan
kembali gagal pada perundingan Jenewa (Desember 2009), pemerintah ”banting
stir” dengan menandatangani Free Trade Agreement (FTA) pada
tingkat regional. Salah satu yang paling maju adalah ASEAN free trade
Agreement (AFTA) yang di jalankan pada dua tingkatan yaitu antar negara
ASEAN sendiri dan antara ASEAN dengan negara lain atau kawasan/region yang
lain.
Perjanjian perdagangan bebas FTA adalah perjanjian yang sangat komprehenshif melebihi kesepakatan yang ada di dalam WTO. Banyak kalangan menyebutnya sebagai WTO plus dikarenakan tidak hanya menyangkut perdagangan barang dan jasa saja akan tetapi juga menyangkut investasi. Selain itu, beberapa sektor yang di dalam WTO dianggap sensitif seperti masalah pertanian, melalui FTA justru mengalami liberalisasi secara lebih menyeluruh.
Berbagai FTA ASEAN dengan negara lain yang telah diandatangani pemerintah negara-negara ASEAN dan Indonesia adalah ASEAN Korea FTA, ASEAN Australia New Zealand (AANZ-FTA), ASEAN India (AI-FTA) dan Asean China (AC FTA). ASEAN juga tengah melakukan negosiasi secara intensif dalam rangka free trade dengan Uni Eropa (UE) dan dengan Amerika Serikat (USA). Sebelumnya pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas tersendiri dengan Jepang melalui Economic Partnership Agreement (IJEPA).
Reaksi Penolakan FTA ASEAN China
Salah satu perjanjian yang paling menghebohkan adalah FTA ASEAN China (AC FTA). Proses perundingan antara China dengan enam Negara ASEAN ini sebenarnya telah dimulai pada 2001-2002 dengan pendatanganan Perjanjian Kerangka Kerjasama Ekonomi Menyeluruh antara ASEAN dan RRC di Phnom Penh, 5 November 2002. Bahkan beberapa bagian dari kesepakatan perdagangan telah diberlakukan pada 2005.
Perjanjian ini memungkinkan Negara tersebut mengurangi tariff produknya melalui perjanjian, tapi negara yang berminat melakukannya diharuskan untuk memberikan permohonan beberapa bulan sebelumnya, yang mana perjanjian ini berlaku efektif pada 1 Januari 2010. Selanjutnya akan dilakukan penurunan bea masuk barang-barang impor dari China secara bertahap hingga 0 persen.
http://www.aseansec.org/19105.htm
Perjanjian perdagangan yang telah dimulai terhitung sejak 1 Januari 2010 memicu rekasi penolakan banyak kalangan di Indonesia, baik pengusaha, serikat pekerja, masyarakat umum. Dikalangan internal pemerintah sendiri masih ada perbedaan pandangan. Hingga waktu terakhir menjelang pemberlakuan secara menyeluruh hasil perundingan, ternyata di dalam negeri masih banyak masalah belum terselesaikan seperti lemahnya dukungan infrastruktur, tidak tersedianya sumber-sumber energi, suku bunga perbankkan yang tinggi, yang menyebkan usaha nasional sulit berkembang.
Terlebih lagi kalangan buruh yang sangat
terancam sejak awal oleh berbagaai peraturan ketenagakerjaan yang tidak memihak
buruh, kebangkrutan industri dalam negeri akibat FTA akan semakin memicu PHK
secara lebih massal. Tidak jarang aksi-aksi
Jauh sebelum FTA yang menyeluruh dimulai,
produk-produk asal
Hal itulah yang menyebabkan pemberlakukan AC FTA cukup membuat industri nasional kalang kabut dan tidak memiliki persiapan apa-apa. Beberapa industri yang terkena dampak langsung dari FTA adalah : industri baja, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, peralatan pertanian, alas kaki, elektronik, alas kaki, elektronik mesin dan industri mesin.
MS Hidayat sewaktu menjabat Ketua
Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Demikian pula dengan Anton Supit, ketua Asosiasi Pengusaha
Sementara pemerintah berpandangan lain. Gusmardi Bustami, Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional
di Departemen Perdagangan, yang ditugaskan sebagai kepala negosiator,
mengatakan bahwa FTA hanya akan dinegosiasikan sebagai tujuan akhir dan tidak
akan dimungkinkan untuk pembicaraan lebih lanjut dengan
Eric Sugandi, ekonom dari Standard
Chartered Bank unit
Ekonom BNI Tony Prasetyantono
mengatakan, Sulit mencari win-win solution dari perjanjian ini, mungkin
yang ada win-lose karena produk-produk kita mirip dengan produk yang
diproduksi
Hal tersebut sejalan dengan data yang dikemukakan oleh Dirjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan Anwar Suprijadi, bahwa pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas (FTA) berpotensi menurunkan penerimaan negara dari kepabeanan hingga mencapai sekitar Rp 15 triliun. Potensi kehilangan yang besar tersebut akan menyebabkan perubahan penerimaan dalam APBN 2010. Sementara APBN 2010 menetapkan target penerimaan bea masuk (BM) sebesar Rp19,6 triliun, sementara APBN 2009 sebesar Rp16,12 triliun.
Umumnya perusahaan besar terutama yang berasal dari negara maju telah menguasai seluruh level perekonomian dari hulu hingga ke hilir, dapat meliputi perbankan/jasa keuangan, eksploitasi sumber bahan mentah, manufactur, perdagangan hingga pada tingkat ritel. Ditambah lagi dukungan negara secara langsung dalam membiayai investasi luar negeri dari perusahaan-perusahaan tersebut akan meningkatkan kemampuan kompetisi mereka.
Di dalam negeri, sektor pertanian telah mengalami kemunduran dalam 10 tahun terakhir secara signifikan dikarenakan kelangkaan sumber daya seperti tanah dan faktor produksi lainnya seperti bibit, pupuk yang mahal, teknologi yang rendah, serta pencabutan subsidi yang dilakukan secara progresif oleh pemerintah. Keadaan sektor pertanian praktis tidak mengalami kemajuan sejak zaman kolonial. Hal itulah yang menyebabkan jauh sebelum FTA, produk pertanian dari luar membanjiri pasar dalam negeri.
Industri di Indonesia umumnya adalah perakitan (assembling), dimana barang modal, bahan baku, dan bahan penolong dipasok dari impor. Keberadaan perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik di Indonesia saling terpisah, tidak terintegrasi satu dengan yang lainnya. Secara statistik saat ini impor Indonesia didominasi oleh impor bahan baku. Hampir 70 persen dari total impor adalah bahan baku yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Sisanya adalah barang konsumsi dan barang modal.
Perekonomian nasional ditopang oleh eksploitasi bahan mentah, minyak, mineral, batubara, hasil perkebunan yang diekspor ke negara maju dalam bentuk bahan mentah. Pertumbuhan ekonomi dalam negeri ditopang oleh konsumsi yang besar dari barang impor.
Fokus pada Ekonomi Domestik
Indonseia harus berkaca dengan baik, dengan siapa ia sedang bersaing. China adalah pemain global yang sangat kuat saat ini. Di tengah dunia digempur krisis keuangan global, China justru mengalami kelebihan devisa yang luar biasa yang diperoleh dari surplus perdagangan mereka. Tahun-tahun ke depan China akan mengalami surplus perdagangan yang lebih besar lagi khususnya terhadap ASEAN dan Indonesia .
Data statistik Indonesia menunjukkan nilai ekspor non migas Indonesia (Jan-Ags 2008) ke China mencapai US$5,572 juta sedangkan nilai impor non migas dalam periode yang sama sebesar US$10,011 juta. Itu berarti indonesia mengalami defisit hampir dua kali lipat.[6] Demikian halnya dengan negara ASEAN yang lain juga mengalami hal yang sama.
Padahal fondasi ekonomi Indonesia belum membaik sejak krisis moneter 1998. Ditambah lagi dengan krisis global yang terjadi 2008 ikut berpengaruh terhadap situasi nasional meskipun kecil. Sementara kebijakan keuangan dan perbankan dalam negeri masih belum berpihak pada dunia usaha dan industri. Bunga tinggi dan perbankan yang korup telah ikut berkontribusi terhadap kemunduran industri nasional.
Demikian juga dengan sektor pertanian dimana lebih dari separuh penduduk menggantungkan hidupnya, masih belum beranjak dari kemunduran. Indonesia saat ini telah menjadi importir produk pertanian, peternakan dan perikanan seperti padi, kedelai, daging, susu, gula, garam, dan berbagai bahan pangan lainnya. Persoalan Indonesia bukan pada mampu bersaing atau tidak, akan tetapi pada kemampuannya dalam memproduksi yang masih lemah.
Sedangkan perdagangan memiliki keterkaitan yang kecil dengan penciptaan lapangan pekerjaan di dalam negeri. Bahkan yang terjadi sebaliknya, perdagangan bebas berpotensi membangkrutkan pertanian dan industri domestik yang akan menimbulkan implikasi lebih jauh pada pengangguran.
Saat ini saja, lebih dari separuh (62 %) dari tenaga kerja bekerja pada sektor informal dan sisanya bekerja pada sektor formal. Sementara dari jumlah tenaga yang bekerja pada sektor formal, separuhnya lagi adalah usaha-usaha yang tidak permanen. Dengan demikian maka pembenahan pertanian dan industri domestik harus fokus pada penciptaan lapangan pekerjaan khususnya sector formal.
Selain itu perdagangan bebas akan menyebabkan
semakin banyak buruh dan pelaku usaha kecil menengah yang kehilangan
pendapatan. Padahal sejak awal sebagian besar pekerja baik di sektor formal
maupun informal kondisinya masih sangat miskin. Sehingga pembenahan fondasi
ekonomi nasional harus berfokus pada mendorong tumbuhnya usaha rakyat dalam
rangka penciptaan lapangan pekerjaan dan upah yang lebih layak dalam rangka
mengatasi 49 persen penduduk miskin negeri ini. (daeng
& rika)
[2] Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi, pada
konferensi pers "Prospek Ekonomi 2010" di Gedung Apindo, Jakarta,
Kamis (17/12/2009)
[3]
[4] ibid
[5] Sulit Bersaing dengan Produk
|
||||||||||||||||||||||
| Next > |
|---|
PAST ISSUES
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi 2, Juni 2009Wednesday, 21 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Berapa kali lagi Indonesia harus menjadi tumbal untuk menyelamatkan
krisis bangsa lain? Sejarah mencatat, sepanjang...>>> |
>>> |
INTERNASIONAL
Jeratan Perjanjian Perdagangan BebasSunday, 07 February 2010We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Tahun 2009, boleh dikatakan sebagai tahun...>>> |
G-20 Sepakat Gelontorkan US$ 1,1 TriliunMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Para pemimpin dunia dari 20 negara (G-20) sepakat untuk
memperpendek masa resesi ekonomi global dan menyelamatkan...>>> |
NATIONAL
ADB Komitmen Tambah Utang RI Hingga USD 1 MiliarMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
JAKARTA - Bank
Pembangunan Asia (ADB) berkomitmen menambah utang untuk Indonesia
hingga USD 1 miliar. Dari...>>> |
Indonesia Eksportir Sawit Terbesar di Dunia ; Masyarakat Petani Sawit DimiskinkanMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Meski Indonesia
merupakan negara pengekspor CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia, akan tetapi
pendapatan...>>> |








