Beranda
Tue
07
Sep 2010
| Jeratan Perjanjian Perdagangan Bebas |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | |
| Sunday, 07 February 2010 | |
|
Tahun 2009, boleh dikatakan sebagai tahun perundingan
internasional. Sedikitnya ada tiga forum pertemuan para pemimpin dunia yang menyedot
perhatian masyarakat, yaitu G20 London Summit, (April 2009), WTO Genewa (Desember
2009) dan pertemuan Kopenhagen untuk mengatasi perubahan Iklim (Desember 2009).
Perundingan internasional tersebut memiliki arti penting,
khsusunya dalam mengatasi dua masalah besar yang tengah dihadapi masyarakat
dunia dewasa ini, yaitu pertama, krisis keuangan global yang terjadi sejak ahir
2008 dan belum ada tanda-tanda pemulihan signifikan hingga saat ini. Bahkan
secara beruntun krisis juga menghantam Dubai salah satu pusat penumpukan
kapital dunia. Kedua adalah masalah perubahan iklim (climate change) sebagai ancaman terbesar bagi masa depan planet
bumi, yang memaksa negara-negara harus menahan diri untuk tidak mengejar
pertumbuhan, mengurangi emisi dan menurunkan laju deforestasi.
Kedua masalah ini tampak ada kontradiksi, satu sisi negara
maju khususnya sedang berhadapan dengan krisis yang berimplikasi terhadap PHK
dan peningkatan pengangguran yang mengharuskan mereka untuk meningkatkan
eksploitasi sumber daya, konsumsi energi, meningkatkan skala investasi industri
dalam rangka menyediakan kesempatan kerja. Sementara pada sisi lain planet bumi
semakin terancam akibat rakusnya negara-negara industri maju dalam melahap
sumber daya alam.
Baik krisis finasial global maupun perubahan iklim global,
sama sekali tidak menjadi pelajaran bagi negara-negara maju terutama AS, Jepang
dan UE bahwa sumber utama dari masalah yang dihadapi umat manusia saat ini
adalah sistem kapitalisme. Suatu sistem yang menimbulkan praktek eksploitasi
tanpa batas, akumulasi pada segelintir orang dan menciptakan kemiskinan bagi mayoritas
umat manusia. Kapitalisme yang dalam prakteknya dijalankan melalui
neoliberalisme yang bertumpu pada liberalisasi, privatisasi dan deregulasi adalah
penyebab utama dari krisis keuangan dan sekaligus krisis lingkungan.
Jalan penyelesaian krisis financial yang diambil tetap sama,
yaitu memperluas investasi dan meningkatkan aktivitas perdagangan bebas.
Demikian halnya jalan bagi penyelesaian krisis lingkungan yang bertumpu pada
tiga hal, investasi teknologi baru, perdagangan karbon dan peningkatan utang
luar negeri bagi negara-negara berkembang dalam rangka melakukan mitigasi dan
adaptasi skema penyelesaian krisis perubahan iklim. Cara-cara neoliberalisme
yang konservatif dan usang terus dipertahankan yang sudah pasti akan
memperparah keadaan.
Dalam barisan negara-negara miskin, Indonesia adalah
pendukung utama ide negara-negara maju dalam ketiga pertemuan tersebut. Dalam
G20 Indonesia mengusulkan skema utang luar negeri melalui counter cyclical policy, melalui WTO Indonesia adalah yang paling
aktif dalam menyukseskan Putaran Doha (Doha
Development Agenda). Sedangkan untuk pertemuan perubahan iklim Kopenhagen
yang gagal meraih kesepakatan, SBY telah menyatakan menerima Copenhagen Accord (Traktat Kopenhagen) hasil
perundingan tertutup beberapa pemimpin negara yang dipimpin AS. Sepertinya SBY
berharap 2010 semakin banyak utang yang masuk ke Indonesia dalam skema
perubahan iklim untuk menahan laju deforestasi di negara ini.
Sepak terjang SBY dalam beberapa perundingan internasional
ini harus diwaspadi, mengingat di sekeliling presiden adalah penganut fundamentalisme pasar seperti Boediono, Sri
Mulyani, yang tidak segan-segan mengorbankan kepentingan mayoritas rakyat untuk
keyakinan ideologinya tersebut, termasuk aktifnya Mari Elka Pangestu menandatangani
Free Trade Agrement (FTA). Tahun 2010
akan menjadi tahun penuh utang dan serbuan barang impor, sebagai akibat
langsung dari perjanjian internasional dan kesepakatan perdagangan bebas yang
ditandatangani pemerintahan SBY - Boediono. Selamat tahun baru 2010, besiaplah
untuk menghadapi era penghisapan kapitalisme neoliberalisme paling massif dalam
sejarah perkembangan masyarakat Indonesia.
|
| Berikutnya > |
|---|
ISU YANG LALU
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi 2, Juni 2009Wednesday, 21 October 2009
Berapa kali lagi Indonesia harus menjadi tumbal untuk menyelamatkan
krisis bangsa lain? Sejarah mencatat, sepanjang abad ke-19 khususnya
setelah pemberlakuan sistem tanam paksa (cultuur...>>> |
>>> |
INTERNASIONAL
Jeratan Perjanjian Perdagangan BebasSunday, 07 February 2010
Tahun 2009, boleh dikatakan sebagai tahun perundingan
internasional. Sedikitnya ada tiga forum pertemuan para pemimpin dunia yang...>>> |
G-20 Sepakat Gelontorkan US$ 1,1 TriliunMonday, 26 October 2009
Para pemimpin dunia dari 20 negara (G-20) sepakat untuk
memperpendek masa resesi ekonomi global dan menyelamatkan lapangan kerja.
Mereka akan menggelontorkan dana US$ 1,1 triliun berupa...>>> |
NASIONAL
>>> |
>>> |






