Home
Tue
07
Sep 2010
Headlines
- 03/06/10: Gotong Royong Dalam Tekanan Rezim Global
- 01/06/10: Apakah Uni Eropa dan ASEAN Bisa Bersatu Melawan Krisis Ekonomi (?)
- 01/06/10: Laporan ASEM Development Conference II –Yogyakarta 26-27 May 2010
- 01/06/10: EU and ASEAN unite efforts against economic crisis
- 01/06/10: Seminar Asean-Europe People Forum-Institute for Global Justice
| KONFERENSI WTO KE-7: |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Sunday, 07 February 2010 | |
|
We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Oleh: Bonnie Setiawan
REZIM PERDAGANGAN BEBAS
Modus operandi yang sekarang paling banyak dipakai untuk mempercepat
ekspansi kapitalisme neo-liberal adalah melalui perdagangan bebas. Perjanjian
Perdagangan Bebas di tingkat multilateral (diikat oleh banyak negara) dikenal
sebagai WTO (World Trade Organization) yang sebelumnya bernama GATT (General
Agreement on Trade and Tariff), sementara di tingkat bilateral dan kawasan
(regional) disebut sebagai FTA (Free Trade Agreement). Dengan FTA, maka
setiap negara yang terikat FTA harus meliberalisasi pasar mereka agar terbuka
sepenuhnya untuk dimasuki barang dan jasa (terutama sektor keuangan) dari luar.
Dengan WTO dan FTA, maka dilestarikanlah penjajahan tidak langsung. Kalau kita
ingat diktum perdagangan masa lalu yang menyatakan, “if goods can not enter
the boundaries, soldier does”; maka pada saat ini tidak diperlukan lagi
invasi tentara asing demi meluaskan perdagangan, tetapi cukup dilakukan lewat
perjanjian-perjanjian perdagangan bebas.
Dengan perjanjian ini, maka Indonesia sudah diikat leher, tangan dan
kakinya untuk menurut pada kepentingan ekspansi pasar global.
Seluruh strategi pembangunan ekonomi di sebuah negara sekarang dihapus dan
diganti oleh perjanjian perdagangan bebas. Lagi-lagi Indonesia adalah contoh
klasik bagaimana sebuah negara dipereteli atau dilucuti kedaulatan ekonominya
lewat IMF, sehingga sejak 1998 Indonesia tidak punya lagi Repelita dan GBHN,
yang artinya tidak punya lagi strategi dasar pembangunan ekonomi. Sejak itu
perencanaan diserahkan sepenuhnya pada ketentuan dan kemauan pasar bebas.
Ditambah lagi amandemen ke-4 UUD 45 tahun 2002 yang memasukkan kata ‘efisiensi’
dalam pasal 33 dan menghapus penjelasan UUD 45. Seluruh UU sektoral sejak itu
juga diubah menjadi UU yang neo-liberal dan ramah pasar. Lalu dengan terikat
kepada WTO sejak 1994 dan FTA (pertamakali lewat AFTA tahun 2002, China-ASEAN
FTA tahun 2004 dan Indonesia-Jepang EPA tahun 2007), maka perlahan tapi pasti
Indonesia dibuka lebar-lebar bagi invasi ekonomi asing. Tidak perlu lagi invasi
tentara asing. Cukup memasukkan segala ketentuan perdagangan bebas dan
pasal-pasal neo-liberal ke dalam semua hukum positif kita, maka habislah sudah
kedaulatan ekonomi kita.
Sejak krisis 1997-1998 hingga krisis 2008-2009 sekarang, Indonesia
terus-menerus memelihara krisis, karena penyebab krisis tetap dipertahankan. Rezim
devisa bebas dan sistem keuangan yang sangat liberal menyebabkan Indonesia
terus berada dalam cengkeraman krisis. Liberalisasi oleh IMF yang sifatnya
sebagai pembuka pintu, kini dikunci ke dalam perjanjian-perjanjian perdagangan
bebas. Aturan-aturan perdagangan barang (dan pertanian), jasa, investasi, HAKI,
belanja pemerintah, kebijakan kompetisi, fasilitasi perdagangan terus masuk
dalam berbagai FTA. Bahkan dalam FTA, sifatnya adalah WTO-plus, artinya lebih
luas cakupan dan kualitasnya ketimbang di WTO. Banyak orang tidak menyadari hal
ini, yaitu rezim perdagangan bebas sekarang adalah konstitusi dunia abad 21,
menentukan segala sesuatunya di dunia ini.
Di tingkat ASEAN sudah dibuat payungnya bernama AEC (ASEAN Economic
Community) yang memayungi semua perjanjian perdagangan bebas. Di dalamnya
ada AFTA yang sekarang menjadi ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement),
AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services) dan ACIA (ASEAN
Comprehensive Investment Agreement). Di tingkat FTA sudah ada ASEAN-China
FTA, ASEAN-Korea FTA, ASEAN-Jepang FTA, Indonesia-Jepang EPA, dan
ASEAN-Australia/NZ FTA, dan ASEAN-India FTA; dan masih akan diadakan FTA dengan
Uni-Eropa, FTA dengan AS, FTA dengan EFTA (European Free Trade Area)
yang non-Uni-Eropa, dan lainnya. Semua ini mengarah kepada “single market
and production base” serta “free flow of goods, capital, services, and
skilled labor”. Indonesia adalah pasar terbesar di ASEAN, tetapi tunduk
penuh pada kepentingan negara liberal yang kecil seperti Singapura. Dengan
rezim perdagangan bebas ini, maka pasar kita yang besar dan usaha-usaha
perekonomian kita telah dan akan terus dikuasai oleh perusahaan-perusahaan
asing (TNCs). Tidak ada yang tersisa untuk rakyat.
KTM WTO VII DI JENEWA DAN COP15 UNFCCC DI KOPENHAGEN
Konperensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke-7 kini kembali
diadakan setelah WTO “buntu” selama 4 tahun sejak KTM terakhir di Hong Kong
tahun 2005. Ini juga menandai dibukanya kembali perundingan Putaran Doha yang
telah “buntu” selama 8 tahun, sejak pertama kali dikumandangkan di Doha, Qatar
pada tahun 2001. Perlu diingat bahwa Putaran Uruguay yang melahirkan WTO, juga
memakan waktu 8 tahun (1986-1994). Putaran
Doha saat ini, sudah berlangsung 8 tahun, tetapi belum juga menyelesaikan
hal-hal mendasar. Ambisi Pascal Lamy, Dirjen WTO saat ini adalah untuk
menyelesaikan modalitas pertanian dan modalitas NAMA (Non Agriculture Market
Access) secara minimum pada KTM ke-7 ini, dan setelahnya menyelesaikan
semua agenda program Putaran Doha sampai dengan 2010, atau setidaknya sampai
KTM berikutnya di tahun 2011.
Tidaklah mengherankan,
bahwa justru penyebab krisis, yaitu pasar yang terlalu bebas dan minim aturan,
dan yang sekarang sedang sakit hebat; justru hendak disembuhkan dengan obat
perdagangan bebas yang mengarah pada pasar yang lebih bebas lagi. Krisis
kapitalisme dunia sekarang, hendak disembuhkan dengan kembali memperluas
kapitalisme, bukannya mengekang kapitalisme. Inilah yang terjadi saat ini. Dan
kita tahu, krisis kapitalisme saat ini memang belumlah akhir dari kapitalisme.
Ini adalah kontradiksi dasar dari kapitalisme, yaitu krisis merupakan alat bagi
penyembuhan kapitalisme dan bangkitnya kapitalisme yang lebih kuat lagi. Hal
ini terjadi dalam riwayat panjang sejarah kapitalisme dunia. Tapi pertanyaan
mendasarnya: sampai kapan kapitalisme bisa bertahan?
Setelah selesainya
Konperensi WTO, telah menunggu Konperensi yang kini juga menjadi sangat
penting, yaitu Konperensi Perubahan Iklim di Kopenhagen (lengkapnya bernama
COP-15 UNCCC atau Conference of the Parties ke-15 dari United Nations
Conference on Climate Change). Satu hal penting yang harus dicatat dari
konperensi Iklim ini, adalah sebuah jawaban bahwa dunia ternyata mempunyai
batas, pertumbuhan ekonomi mempunyai batas, dan akumulasi modal mempunyai
batas; yang bila dilewati akan berakibat kepada punahnya bumi sebagai
satu-satunya tempat tinggal manusia. Bila kita ingat peringatan Klub Roma di
tahun 1970an: the limit to growth (batas-batas pertumbuhan), kini hal
itu semakin nyata lewat global warming (pemanasan global). Bumi tidak
mungkin dieksploitasi terus menerus dengan kecepatan dan derap laju produksi seperti
sekarang; karena bila itu dilakukan, maka akan terjadi kiamat. Isu iklim ini
menjadi strategis. Kerakusan manusia tidak ada batasnya, tapi bumi punya
batasan-batasan eksak. Artinya, the limit to greedy, batas-batas atas keserakahan.
Kapitalisme ada batasnya.
Tapi para
korporasi besar dunia dan para globalis elit tidak mempercayai hal ini.
Peringatan akan bahaya pemanasan global dianggap sebagai isapan jempol belaka.
Bahkan konperensi perubahan iklim kini menjadi ajang jual beli karbon dan
emisi, serta mengkaitkan rezim perdagangan bebas dalam mekanisme pemecahan
masalah ‘adaptasi’ dan ‘mitigasi’ demi keuntungan yang lebih besar dan penciptaan
pasar ‘hijau’ (green market) yang baru yang dapat menciptakan kesempatan-kesempatan
bisnis dan perdagangan baru.
KTM 7 WTO
dan UNCCC COP-15 nampaknya akan dikaitkan oleh para globalis untuk menjadi
sebuah rezim perdagangan baru yang hijau (ramah lingkungan). Ini juga nama lain
dari kapitalisme hijau (green capitalism) dengan esensi yang sama, yaitu
tetap melestarikan kerakusan dan eksploitasi. Akan tetapi kapitalisme hijau
hanyalah stempel. Kapitalisme hasil dari krisis global sekarang akan dapat
dilihat dalam 2-3 tahun ke depan, yaitu restrukturisasi dan overhaul atas
kapitalisme global yang sekarang ke arah kapitalisme tahap lebih tinggi.
AKHIR DARI KAPITALISME DAN LAHIRNYA SOSIALISME BARU ?
Sebagaimana kata Karl Marx, “kapitalisme akan menggali
kuburnya sendiri untuk digantikan oleh sosialisme” dan bahwa “sosialisme lahir
dari kandungan kapitalisme”. Hal ini merupakan kata pengingat untuk melihat
fenomena munculnya era kapitalisme yang lebih baru (mutakhir) dan tanda-tanda
lahirnya kembali sosialisme yang adalah hasil dari melenyapnya kapitalisme. Isu
perubahan iklim dan pemanasan global penting untuk memperlihatkan bahwa untuk
bisa mempertahankan pola produksi, distribusi dan konsumsi saat ini, maka
manusia memerlukan 5 planet bumi, sesuatu hal yang musykil. Karena itu untuk
tetap bisa hidup di bumi yang hanya satu ini, maka berarti seluruh pola
produksi, distribusi dan konsumsi manusia haruslah dipotong empat-perlimanya
atau 80%, tinggal menjadi 20%. Barulah dengan tingkat seperti itu, kehidupan di
atas bumi ini bisa langgeng dan lestari.
Apa artinya itu? Artinya seluruh output industri dan
seluruh pertumbuhan ekonomi haruslah dikurangi hingga ke arah ambang batas dan
daya tahan planet bumi. Apa artinya lagi? Artinya bahwa seluruh asset produksi
dan sumber-sumber alam haruslah disosialisasi untuk kebutuhan seluruh umat
manusia. Premis ekonomi privat dan individualisme tidak dapat lagi
dipertahankan. Seluruh premis ekonomi harus bersifat sosial, yaitu sosialisme.
Ini adalah keniscayaan, ini adalah hal yang tak bisa dihindari. Kerakusan
individual manusia; rezim individualisme atau rezim privat tidak punya masa
depan dan tidak bisa lagi dipertahankan. Masa depan umat manusia ada pada
sosialisasi atas segala alat produksi dan sumber-sumber alam. Barulah bisa
tercipta bumi yang damai, sehat, dan berkelanjutan.
Era perdagangan bebas sebenarnya hanyalah fenomena
sesaat, sama seperti era neo-liberalisme. Akan
tetapi pada akhirnya ia tidak akan dapat bertahan lama. Salah satu pendekatan
ilmu ekonomi yang mutakhir, yang tegas-tegas menolak pandangan
neo-klasik/neo-liberal, adalah ekonomi biofisik (bio-physical economy).
Ekonomi biofisik meghitung seluruh hal di bumi ini ke dalam perhitungan
ekonomi, termasuk lingkungan, buruh, sumber-sumber alam termasuk enerji dan
sebagainya. Dengan begitu menempatkan ilmu ekonomi pada keterbatasan planet
bumi. Dengan begitu ilmu ekonomi dikembalikan kepada asalinya, yaitu ilmu
sosial yang mengejar kepada kesejahteraan umat manusia, bukan segelintir
kapitalis. Mudah-mudahan kita bisa belajar banyak dari KTM WTO dan Konferensi
Iklim ini dengan mengambil perspektif jangka panjang ke depan dan aspek-aspek
yang substansial bagi umat manusia dan kemanusiaan.
|
| < Prev | Next > |
|---|
Polls
Artikel Populer
>>> |
| Populer Lainnya |
PAST ISSUES
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi 2, Juni 2009Wednesday, 21 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Berapa kali lagi Indonesia harus menjadi tumbal untuk menyelamatkan
krisis bangsa lain? Sejarah mencatat, sepanjang...>>> |
>>> |
INTERNASIONAL
Jeratan Perjanjian Perdagangan BebasSunday, 07 February 2010We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Tahun 2009, boleh dikatakan sebagai tahun...>>> |
G-20 Sepakat Gelontorkan US$ 1,1 TriliunMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Para pemimpin dunia dari 20 negara (G-20) sepakat untuk
memperpendek masa resesi ekonomi global dan menyelamatkan...>>> |
NATIONAL
ADB Komitmen Tambah Utang RI Hingga USD 1 MiliarMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
JAKARTA - Bank
Pembangunan Asia (ADB) berkomitmen menambah utang untuk Indonesia
hingga USD 1 miliar. Dari...>>> |
UU Peternakan dan Kesehatan Hewan: Ancaman bagi Peternakan Rakyat Monday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Menyikapi pengesehan Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,...>>> |







