| Pemerintah Indonesia tidak Jujur |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Monday, 15 February 2010 | |
|
We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
"Ada Motivasi Utang dibalik Kesepakatan AC FTA"
Menyikapi dibukanya Perdagangan
bilateral antara ASEAN-China pada 1 Januari 2010, IGJ mengadakan diskusi
”Dampak Kerjasama ASEAN-China FTA terhadap Industri Dalam Negeri” untuk
merespon perjanjian perdagangan tersebut. Diskusi ini diselenggarakan pada
Rabu, 20 Januari 2010 dan pembicara yang hadir adalah : Syamsul Hadi (Dosen
Hubungan Internasional, Universitas Indonesia), Alexander C. Chandra (Peneliti
rekanan pada Pusat Studi China Universitas Indonesia) dan Ernovian G Ismi
(Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia).
Syamsul Hadi menegaskan bahwa
kerjasama ASEAN-China ini telah ditandatangani pada tahun 2002 tetapi banyak
kalangan yang tidak aware dengan dampak-dampak yang akan ditimbulkan
oleh kerjasama yang sifatnya mengikat (binding) ini. Selain itu,
minimnya koordinasi yang dilakukan antar Departemen menjadikan tiap badan dalam
pemerintahan berjalan ”sendiri-sendiri” dalam menghadapi FTA. Perjanjian
kerjasama yang dilakukan oleh DPR pun dilaksanakan tanpa adanya diskusi publik
dengan dunia usaha terkait, asosiasi petani, serikat pekerja dan pemerintah
daerah.
Berbeda dengan yang dilaksanakan
oleh Jepang, Pemerintah Jepang melibatkan asosiasi dan kelompok kepentingan dalam
setiap negosiasi perdagangan. Dalam negosiasi perdagangan bebas (EPA)
Indonesia-Jepang yang ditandatangani Agustus 2007, misalnya, Jepang menolak
memberikan jaminan kepastian kerja dan upah minimum yang jelas bagi perawat
Ernovian
G Ismi membenarkan bahwa kegelisahan mengenai ACFTA ini sudah dirasakan pada
tahun 2004 oleh industri tekstil dalam negeri. Menurutnya, industri kecil
adalah industri yang beresiko tinggi karena industri tektil dalam Negeri
berkualitas jelek dengan harga mahal. ”Masyarakat tentunya tidak peduli produk
tersebut berasal dari dalam atau luar Negri, yang penting bagi mereka adalah
harga yang murah dan kualitas bagus. Industri tekstil dalam negeri tentunya
kalah telak dengan produk impor” Ismi menjelaskan.
Menurut Alexander C. Chandra, bahwa
ACFTA ini sebenarnya sudah diwarning semenjak tahun 2004 dan sudah diimplementasikan
dalam Early Harvest Program. Tetapi kesempatan ini tidak dimanfaatkan
dengan baik oleh
”Bangkrutnya industri tekstil juga
tidak dapat disalahkan sepenuhnya kepada ACFTA, karena sebenarnya kesepakatan
ACFTA ini relatif sederhana, hanya menyangkut pertukaran barang saja, berbeda
dengan perjanjian-perjanjian lain yang juga menyangkut jasa.” demikian papar
Alex. Issue yang terpenting adalah kesiapan industri dalam Negeri dan pastinya
akan ada short term adjustment cost.
Dalam diskusi tersebut Salamuddin
Daeng dari IGJ mempertanyakan cara pandang pemerintah yang sangat neoliberal. Pemerintah
tidak secara terbuka menyampaikan ke publik tentang dasar argumentasi
menyetujui ASEAN China FTA dan apa untung ruginya bagi masyarakat
Belajar dari pengalaman dalam banyak
perundingan internasional yang lain seperti WTO, G20 dan Pertemuan Climate
Change Kopenhagen, pemerintah Indonesia adalah pihak yang paling
bersemangat dalam mengusung liberalisasi perdagangan dan menolak
proteksionisme. Ternyata setelah ditelusuri pemerintah SBY mengharapkan utang
dari negara maju dalam skema penyelesaian krisis keuangan global dan perubahan
iklim. ”Ada kecurigaan bahwa motifasi yang besar untuk mendapatkan utang luar negeri dari China untuk mendukung berbagai proyek infrastruktur di Indonesia seperti jalan, jembatan dan pembangkit listrik 10.000 MW, merupakan alasan disepakatinya AC FTA”. Padahal kebiasaan mengemis utang tersebut telah menjadi masalah yang sangat krusial dewasa ini. Belum lagi kerugian yang akan dialami petani dan buruh yang akan menjadi korban pertama dari kebijakan neoliberal tersebut. Jelas Daeng. (Rika)
|
| < Prev | Next > |
|---|
PAST ISSUES
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi 2, Juni 2009Wednesday, 21 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Berapa kali lagi Indonesia harus menjadi tumbal untuk menyelamatkan
krisis bangsa lain? Sejarah mencatat, sepanjang...>>> |
>>> |
INTERNASIONAL
Jeratan Perjanjian Perdagangan BebasSunday, 07 February 2010We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Tahun 2009, boleh dikatakan sebagai tahun...>>> |
G-20 Sepakat Gelontorkan US$ 1,1 TriliunMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Para pemimpin dunia dari 20 negara (G-20) sepakat untuk
memperpendek masa resesi ekonomi global dan menyelamatkan...>>> |
NATIONAL
UU Peternakan dan Kesehatan Hewan: Ancaman bagi Peternakan Rakyat Monday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Menyikapi pengesehan Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,...>>> |
Bank Dunia Menambah Investasi dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat di IndonesiaMonday, 26 October 2009We Are Apologize, Currently This Artcle Has No Translation On English.
Direksi
Eksekutif Bank Dunia menyetujui pembiayaan baru untuk meningkatkan...>>> |







