Seminar Asean-Europe People Forum-Institute for Global Justice
Tuesday, 01 June 2010
AEPF sebagai organisasi jaringan NGO dan pergerakan sosial
di Asia dan Eropa yang sudah berdiri semenjak tahun 1996 bekerjasama dengan
jaringan LSM Indonesia seperti : IGJ, Walhi, API dan PRP mengadakan forum
workshop dengan tema : “Konsolidasi Pergerakan Sosial dalam Menghadapi
Tantangan Hubungan Indonesia-Uni Eropa dan ASEAN-Uni Eropa”. Acara ini diadakan
pada 29 April 2010 dengan mengundang duta besar Julian Wilson, Kepala Delegasi
Komisi Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam.
Julian Wilson menegaskan bahwa Uni Eropa akan melaksanakan
perdagangan yang adil di Indonesia yang ditunjukkan dengan komitmen rules-based
global system yang sejalan dengan WTO. Indonesia telah menerima 30 juta euro
untuk memperbaiki standar eksport industri dan memperkuat iklim investasi.
Kepentingan komersil EU di bidang perdagangan adalah
sesuatu yang tidak bisa dipungkiri juga. Kekuatan ekonomi yang besar dari Cina,
India dan Brazil juga menjadi perhatian mereka. Tetapi menurut Wilson, adalah
salah menjudge bahwa perdagangan ASEAN-Uni Eropa sebagai suatu agresi. Dengan
kekuatan eksport ASEAN ke Uni Eropa akan mengakibatkan surplus perdagangan yang
baik. Uni Eropa akan diuntungkan dengan produk yang murah, dan Negara ASEAN
akan diuntungkan dengan tenaga kerja dan pembangunan yang dibawa oleh
perdagangan ini. Uni Eropa juga akan lebih memperhatikan social protection dan
hak-hak pekerja, begitu janjinya.
Selain itu isue perubahan iklim juga menjadi perhatian Uni
Eropa, Uni Eropa terus meningkatkan reduksinya dari 20% menjadi 30% adalah
sebuah janji dan pembiayaan yang diberikan oleh mereka terhadap perubahan iklim
sebesar 2,4 milyar euro adalah sebuah fast-start finance.
Mengenai masalah food sovereignity, bagaimana sistem
pertanian bisa dijalankan dan kebutuhan masyarakat untuk bisa bekerja terus di
dalamnya dan populasi sebagai suatu keseluruhan, UE telah menyediakan 1 milyar
euro untuk menyediakan food facility untuk negara berkembang yang terkena
krisis pangan.
Kris Vanslambrouck dari triple eleven Asia menjelaskan mengenai
hubungan Uni Eropa dan perubahan iklim. Kris menjelaskan skema keuangan
adaptasi dan mitigasi yang diberikan oleh UE sebesar 7.2 milyar euro untuk
tahun 2010-2012 tidak menjelaskan program-program apa yang akan
dibiayai?pelajaran yang didapat dari Copenhagen adalah Uni Eropa tidak bisa
megambil alih kepemimpinan perekonomian dunia dan telah gagal membangun
hubungan dengan China dan bahkan telah jauh dilampaui oleh Amerika. Kampanye
yang dilakukan di Eropa terkait dengan perubahan iklim ini adalah bahwa tidak
ada solusi yang salah : katakan tidak untuk biofuel dan ganti rugi terhadapnya.
Dan pentingnya untuk penurunan emisi di Uni Eropa. Think global, act local.
Rolland Kulke dari Rosa Luxemburg Foundation, Brussels
menjelaskan mengenai strategi Eropa dalam menghadapi globalisasi. Ini penting
untuk melihat bagaimana Komisi Eropa menjadikan Uni Eropa sebagai ekonomi yang
berbasiskan kompetisi di dunia dengan pekerjaan yang lebih bagus dan kohesi
sosial yang lebih besar dan menjaga lingkungan. Tantangan yang dihadai oleh
Eropa pada 2020 adalah : globalisasi, tekanan terhadap sumber daya alam dan
populasi. Apa yang menjadi masalah di Eropa adalah : tingginya angka
pengangguran membuat eropa menjadi menurun dalam skenario dunia. Uni Eropa
telah menetapkan strategi menyangkut perlindungan sosial, tetapi perlindungan
ini pada prakteknya banyak merugikan tenaga kerja dan hanya mementingkan pelaku
ekonomi pasar. Misalnya peraturan mengenai jaminan kesehatan, tidak menjadi
penting lagi ketika jaminan kesehatan ini tidak dijadikan sebagai
”tujuan” tetapi menjadi ”alat” untuk menjamin produktivitas yang lebih
tinggi. Hal-hal semacam ini perlu kita cermati sebagai civil society yang
berfungsi dalam mengontrol kesepakatan perdagangan.
Dari dalam negeri, Lutfiyah Hanim dari Aliansi Petani
Indonesia menjelaskan bahwa perjanjian Uni Eropa dengan Indonesia akan
berpotensi merugikan petani dalam bidang produk-produk bioteknologi seperti
benih tanaman pertanian. Melalui rezim hak kekayaan intelektual terkait
perdagangan (TRIPS), negara industri berusaha melindungi produknya melalui
paten. Hal ini akan mengakibatkan Indonesia membeli produk pertanian dengan
harga yang mahal karena harus membayar IPR kepada produsen.
Mengingat banyaknya potensi kerugian yang akan
diakibatkan oleh pola perdagangan ASEAN-EU FTA ; perekenomian secara
keseluruhan dan lingkungan khususnya maka penting bagi kalangan gerakan untuk
mencermati kembali perjanjian ini. Janji bantuan keuangan yang diberikan oleh
Uni Eropa ini jangan dilihat sebagai bantuan yang tidak ada imbal baliknya
Dampak Krisis: Apakah Perdagangan Bebas Solusi Bagi Indonesia?Thursday, 08 January 2009 | AdministratorPendahuluan
Sejak munculnya masalah kenaikan BBM, macetnya
pembayaran subprime mortgage sampai krisis
keuangan Amerika Serikat yang dipicu oleh meningkatnya biaya... >>>
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi 2, Juni 2009Wednesday, 21 October 2009
Berapa kali lagi Indonesia harus menjadi tumbal untuk menyelamatkan
krisis bangsa lain? Sejarah mencatat, sepanjang abad ke-19 khususnya
setelah pemberlakuan sistem tanam paksa (cultuur... >>>
Global Justice Update, Tahun ke-7, Edisi Khusus 2009Thursday, 09 July 2009
Neoliberalisme
adalah mimpi buruk
bagi kedaulatan negeri ini!
Tak ada kemakmuran apalagi keadilan
yang bisa didapat darinya.
Oleh karna itu penolakan pada... >>>
INTERNASIONAL
Jeratan Perjanjian Perdagangan BebasSunday, 07 February 2010
Tahun 2009, boleh dikatakan sebagai tahun perundingan
internasional. Sedikitnya ada tiga forum pertemuan para pemimpin dunia yang... >>>
G-20 Sepakat Gelontorkan US$ 1,1 TriliunMonday, 26 October 2009
Para pemimpin dunia dari 20 negara (G-20) sepakat untuk
memperpendek masa resesi ekonomi global dan menyelamatkan lapangan kerja.
Mereka akan menggelontorkan dana US$ 1,1 triliun berupa... >>>
NASIONAL
Indonesia Eksportir Sawit Terbesar di Dunia ; Masyarakat Petani Sawit DimiskinkanMonday, 26 October 2009
Meski Indonesia
merupakan negara pengekspor CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia, akan tetapi
pendapatan ekspor tidak berkorelasi positif dengan kesejahteraan petani sawit
yang... >>>
Indover, Devisa Bebas dan Pengkhianatan pada TKIThursday, 13 November 2008
Dalam
beberapa waktu terakhir, kita kembali dikejutkan oleh pemberitaan media massa
yang menyebutkan bahwa salah satu bank anak perusahaan Bank Indonesia (BI) yang
beroperasi di... >>>