15 - May - 2008

 

 

 

 

 

 

Yakinkah Anda bahwa perjanjian perdagangan bebas bilateral yang dilakukan Indonesia dengan negara maju akan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia ?
Yakin
Tidak Yakin
Ragu-ragu
Tidak Tahu

Jl.Diponegoro No.9, Jakarta Pusat.
Telp: +62 21 31931153
Fax: +62 21 3193956

Hubungi Kami
Publikasi
THE IMPACTS OF THE ASEAN-CHINA FREE TADE AGGREMENT ON THE INDONESIA ECONOMY
Penulis:
Daniel

Deskripsi:
This book aims to assess the economic impacts of the ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), and its early phaseof implementation, also known as the Early Hearvest Programme (EHP), implemented since January 2004, on the economic of Indonesia. Although the first phase of ACFTA is nearly ended, and is to be followed by gradual tariff reduction on all agricultural and industrial products, limited information has been made available to the public conceringthis trade aggrement. even prior to the signing of ACFTA, little consultation has taken place within the Association of Southeast Asian Nation (ASEAN)or between the goverment of Indonesia and the people of Southeast Asia. A number of studies have already assessed this trade deal. However, most of the available literature tends to support ACFTA. This book is a critical assessment of ACFTA and EHP, as well as other forms of Indonesian trade policy, particulary in bilateral and regional framework. First, the report's economic analysis assessment reveals that the ACFTA has a negative impact on the wlfare of Indonesian small economic actors. Second, the Indonesian goverment has failed to exploit the potential of its domestic agricultural and manufacturing sectors in taking the most benefit from ACFTA. Third, ASEAN and the Indonesian goverment monopolise economic policies in Southeast Asia and Inonesiarespectively. ASEAN and the Indonesia goverment proceeded with tariff liberalization without comprehensive consultation with all domectic constituents thoughout Southeast Asia. So far, ASEAN and it's member goverments still think that trade issues only concert goverment and traders, particulary large industrialist groups. However, it is clear now that free trade has substantial impacts on the dialy of all sections of society in both Indonesiaand the rest of Southeast Asia. As a result, ACFTA is far from democratic, and is not a reflection of the actual economic needs and interest of the Indonesian people, or the peopele of Southeast Asia.

Hantaman Neoliberalisme Terhadap Industri Gula Indonesia
Penulis:
Dianto

Deskripsi:
Program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) memiliki tujuan normative untuk mengangkat harkat dan martabat petani tebu di Indonesia dan hendak mencapai tujuan kuantitatif dalam bentuk peningkatan produktivitas industri gula yang paling tidak ditujukan dengan pencapaian swasembada. Pada tahun 1984 swasembada itu memang pernah dicapai, tetapi umurnya hanya 2 tahun saja! Sementara pencapaian kualitatif untuk mengangkat harkat dan martabat petani ternyata dapat disimpulkan ibarat jauh panggang dari api!

Kemelut dalam perdagangan gula di Indonesia masih terus berlangsung. Gula-gula selundupan masih terus membanjiri pasaran dalam negeri. Pergantian pemerintahan sebagai hasil pemilu 2004 juga telah melahirkan sejumlah regulasi baru. Sejumlah uraian, analisa dan kesimpulan yang disajikan dalam buku ini dapat memberikan kejelasan atas pertanyaan mengapa kemelut-kemelut itu masih terus berlangsung?


Jebakan Global
Penulis:
Hans Peter Martin and Harald Schumann

Deskripsi:
Buku ini mengeksplorasi meluasnya globalisasi dan kemungkinan akibat-akibatnyabagi kesejahteraan sosial dan demokrasi. Ditulis oleh wartawan-wartawan Der Spiegel yang berpengalaman, buku ini kaya informasi mutakhir, menggelitk pikiran dan bacaan menggairakan.

Buku ini dimulai dengan sebuah seminar swasta yang dihadiri oleh 500 eksekutif perusahaan, para politisi dan kaum intelektualterkemuka di San Fransisco.

Mendiskusika abad ke XXI, penilaian para pembentuk dunia ini sungguh dahsyat. Para pengusaha besar itu tidak hanya memindahkan produksi dari negari-negeri industri. Meraka meramalkan suatu masa depan teknologikal yang hanya memerluka seperlima dari tenaga kerja dunia sekarang.

Masyarakat 20:80 ini, dimana 20% dari penduduk cukup untuk enjaga terus berputarnya ekonomi dunia dan 80% orang tanpa pekerjaan itu ditengagkan dengan suatu diet "tittytainment" serta modern untuk roti dan sirkus-sirkus.

Nasion-nasion kaya hingga kini meluncur ke visi menakutkan itu dengan kecepatan tak-terkendali lagi. Beruta-juta penganggur, ketidak-pastian pekerjaan secara besar-besaran, suatu jurang yang makin lebar antara yang dibayar rendah dan yang berkecukupan. Globalisasi dapat menyatukan dunia, tetapi itu sebuah dunia yang ambruk. Selagi para manajer perusahaan-perusahaan multi-nasional membuat negara-negara nasion bertekuk lutut dan para politisi melanjutkan terus deregulasi, para orang kaya bersembunyi dalam keamanan para ghetto-ghetto mereka dan yang selebihnya mencemaskan keberadaan mereka dan selebihnya mencemaskan keberadaan mereka.

Tetapi, demikian Martin dan Schumann membantah, kita tidak harus hanya menjadi tenaga penggerak didalam suatu dinamika global yang brutal. Kekuatan demokratik dan kesejahteraan ekonomi tidak harus bersaing dengan kemajuan teknologi dan ekonomi. Keutamaan politik atas ekonomi dan perhatian negara mesti, dan dapat, diperkokoh kembali.

Buku setebal 360 halaman ini diterbitkan atas kerjasama Hasta Mitra dan Institute for Global Justice.

Indonesia dan Ancaman Perjanjian Perdagangan Bebas Bilateral
Penulis:
Alexander C. Chandra

Deskripsi:
Karya tulis ini menganalisa perkembangan perjanjian bilateral (BTA- Bilateral Trade Agreements)dikawasan Asia Timur. Meningkatnya jumlah BTA dikawasan ini diakibatkan oleh menguatnya keinginan untuk memperkuat regionalisme diantara negara-negara di Asia Timur, khususnya dibawah payung ASEAN plus tiga (APT - ASEAN Plus Three).

Fenomena perdagangan ini perlu dipelajari lebih lanjut, khususnya mengenai implikasi yang mungkin dihadapi oleh masing-masing negara yang terlibat dalam jenis pedagangan bebas seperti ini.

Karya tulis ini dibuat dengan tujuan untuk menganalisa dampak yang akan ditimbulka oleh beberapa BTA di kawasan Asia Timur terhadap sektor pertanian dan Non pertanian, keamanan pangan, dan pembangunan desa dari salah satu negara ASEAN, Indonesia.

Lain halnya dengan negara-negara pendiri ASEAN pada umumnya, seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina, Pemerintah Indonesia dapat dinilai lamban dalam proses pelaksanaan BTA dengan negara-negara non Anggota ASEAN.

Meskipun demikian, dengan maraknya penggunaan BTA sebagai bagian dari kebijakan ekonomi luar negeri negara-negara ASEAN lainnya, sangat memungkinka pemerintah Indonesia akan mengabil langkah yang sama untuk memulai BTA dengansalah satu atau ketiga negara-negara Asia Timur Laut maupun dengan negara-negara diluar kawasan Asia.

Indonesia dan Akses Pasar Non-Pertanian WTO
Penulis:
Alexander

Deskripsi:
Karya tulis ini menganalisa tentang perkembangan perundingan-perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO - World Trade organisation) atas akses pasar produk-produk non pertanian (NAMA - Non-Agriculture Market Access), serta kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan terhadap sektor industri di Indonesia.

Perundingan-perundingan yang terjadi dalam lingkup NAMA sendiri adalah bagian besar dari program kera yang pernah dicetuskan pada Konfrensi Tingkat Menteri (KTM) WTO yang dilakukan pada bulan Noember 2001.

Pada KTM di Doha tersebut telah disetujui bahwa negara-negara anggota WTO akan menurunkan, atau menghapus, tarif bagi produk-produk non-pertanian. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa NAMA masih dalam tahap perundingan, yang pelaksanaannya masih belum ditetapkan secara pasti.

Secara lebih rinci, karya tulis ini merupakan pemetaan perspektif aktor-aktor domestik di Insdonesia terhadap kerangka perjanjian dan kemungkinan pelaksanaan NAMA dimasa mendatang.


Back | Next
Copyright © 2004, Institute for Global Justice, All Rights Reserved